Minggu, 31 Mei 2020

WAHAI PARA ULIL ALBAB

MASIH ADAKAH ENGKAU?

DIMANAKAH SUARAMU?

MENGAPA ENGKAU DIAM? ATAUKAH?

???????

AKU YAKIN!,

ENGKAU TIDAK DIAM

WAHAI ULIL ALBAB

AKU MERASAKAN

ADA YANG MENYESAKKAN DADA ENGKAU

BAHKAN ENGKAU INGIN BERTERIAK!

TAPI BISINGNYA DUNIA INI

HAMPIR TIDAK BISA DIDENGAR SUARAMU DAN TERIAKANMU

SIBUKNYA DUNIA MUNGKINKAH SUDAH MELUPAKANMU?

MUNGKINKAH HITAM DAN PUTIH,

TERANG DAN GELAP

SUDAH TIDAK BISA DILIHAT

KARENA BUTANYA KITA

DENGAN DUNIA
DAN LUPANYA KITA DENGAN SANG PENCIPTA

YANG SUNGGUH TIDAK TERASA

YA ALLAH TAMPAKKANLAH KEBENARAN ITU SEBAGAI SEBUAH KEBENARAN DAN BERIKAN PETUNJUK DAN KEKUATAN AGAR DAPAT MENGIKUTINYA

Minggu, 26 April 2020

Perspective Kepasrahan (mensikapi corona part-3)

Pada suatu saat saya berbincang dengan seorang mubaliq yang cukup terkenal dan mempunyai reputasi di lingkungan kami dalam skala sekelas kota kabupaten.
Iya tentu seorang mubaliq pastilah mempunyai kemampuan verbal yang baik dan pengetahuan yang luas, apalagi beliau pernah menduduki berbagai jabatan penting di lingkungan Departement Agama dan juga pernah menjadi Dosen maupun staf pengajar lainnya, yang tentu pendidikan formalnya tidak perlu diragukan lagi.
Dalam perbincangan tersebut mulai menjurus ke suatu perdebatan yang tentunya bukan level saya untuk berhadapan dengan beliau, dengan kemampuan-kemapuan yang mereka miliki.
Dalam perbincangan tersebut saya memang mencoba untuk memancing agar beliau berbicara karena saya memang ingin tahu apa yang dipikirkan orang-orang seperti beliau ini, sehingganya ada kesan seoalah saya orang yang suka ngeyel, namun sebenarnya saya ingin agar beliau berbicara lebih banyak, karena saya juga ingin banyak tahu.
Pada dasarnya saya mengagumi beliau dengan ilmu dan wasasannya yang luas, namun ada sedikit
perbedaan pandangan soal keyakinan menghadapi kejadian dan ketentuan-Ketentuan Allah.
Dalam menghadapi kejadian dan ketentuan-ketentuan Allah saya mengambil pelajaran bagian dari ilmu-ilmu ke-Thoriqoh-an yang saya ketahui, dan saya juga faham beliau ini sangat faham juga dengan sejarah dan apa Thoriqoh itu, karena beliau juga sering bercerita tentang itu. dan saya juga melihat dengan mata kepala sendiri beliau juga sering hadir di majelis-majelis Thoriqoh.

Salah satu ilmu ke-Thoriqoh-an yang saya ketahui adalah makrifatiyah, yaitu riyadhoh dan berserah diri sepenuh hati kepada apa maunya Allah,

Dalam pembicaraan tersebut dimulai dengan masalah Virus Corona, dan kami sepakat bahwa virus korona itu sangat berbahaya. namun dalam menghadapinya ternyata kami mempunyai perbedaan cara dan pemikiran.
Dalam pemikiran beliau yang saya tangkap bahwa karena kita tahu bahwa virus Corona itu sesuatu yang berbahaya, maka perlakukan sesuatu yang berbahaya tersebut sesuai dengan apa yang ada, yaitu dihindari dan diantisipasi agar tidak terkena  sesuai prosedur yang disarankan oleh para ahlinya.
Kemudian saya bertanya kepada beliau: "Bagaimana kalau kita yakin bahwa Allah akan menghindarkan dari bahaya tersebut?".
Kemudaian Beliau balik bertanya: "Bagiamana kamu bisa yakin Allah akan menghindarkan dari bahaya tersebut?".
Saya jawab: "ya yaqin saja, karena Allah maha kuasa atas segala sesuatu".
Beliau bertanya lagi: "bagimanan kamu bisa yaqin padahal itu sudah sunnatullah (ketetapan hukum Allah) bahwa itu berbahaya?"
Kemudaian saya balik tanya lagi: "menurut sunnatullah, api itu panas apa enggak?"
Jawab Beliau :"jelas menurut sunnatullah api jelas panas"
Saya bertanya lagi: "kenapa Nabi Ibrahim, sunatullah bahwa api panas itu tidak berlaku untuknya pada saat itu?"
Jawab Beliau: "ya itu namanya mukzizat, karena beliu itu Nabi Ibrahim seorang nabi"
Beliau berkata dan bertanya: "apakah kamu merasa seperti nabi sehingga kamu yaqin tidak akan terkena virus corona?"
saya diam sebentar hampir-hampir tidak mampu dan tidak berani jawab.
"iya pak saya bukan siap-siapa di hadapan Allah, tapi saya tetap yaqin Allah akan menghindarkan saya dari virus corona" saya menimpali.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu" lanjut beliau.
"iya, saya mengambil pelajaran dari apa yang pernah Bapak saya ceritakan kepada saya, orang-orang zaman dulu itu, doa-doanya lebih makbul dan mujarab walaupun doanya simple-simple, cukup  baca Syahadat dan Sholawat Nabi karena sangat yaqin".
"pernah diceritakan mbah saya hanya baca doa yang simple tersebut berkelana melewati hutan yang masih ada harimaunya dan mbah saya pernah berpapasan dengan harimau, namun alhamdulillah tidak ditimpa bahaya dari harimau tersebut" lanjut saya bercerita.
yang selanjutnya ini sebenarnya tidak terduga apa yang akan dikatakan beliau
"kalau begitu apakah kamu berani mengadapi harimau atau virus corona, atau bahaya lainnya, dengan kamu yaqin atau dengan berdoa seperti itu?"
"Kalau kamu yaqin coba kamu hadapi itu virus corona, kamu terjun ke lapangan tangani itu orang yang jelas-jelas kena virus"
saya terdiam tidak bisa jawab.
Beliau menegaskan lagi pandangannya: "kalau saya akan hindari itu virus corona sesuai sunnatullah, karena saya bukan nabi dan bukan orang-orang zaman dulu seperti yang engkau sebutkan"
Saya coba beranikan menimpali: "dengan berkata seperti itu berati Bapak menutup diri untuk bisa seperti nabi dan orang-orang zaman dahulu?".
"Iya karena saya bukan nabi dan bukan orang-orang zaman dahulu"  jawab beliau, dan dialog berakhir.

Kemudian setelah itu saya merenung dan berpikir, beliau itu benar hanya saja ada yang kurang sepakat di benak saya tentang :
"Kalau kamu yaqin coba kamu hadapi itu virus corona, kamu terjun ke lapangan tangani itu orang yang jelas-jelas kena virus"

Iya keyakinan kok disuruh coba.
Bukankah keyakinan pertolongan Allah terhadap sesuatu yang dianggap menimbulkan bahaya, bukan suatu sok-sokan untuk menantang bahaya, bahkan berniat untuk menjadi pahlawan atau superhero, tapi karena dasar keyakinan tersebut adalah kepasrahan diri. Seperti apa yang diceritakan orang dulu yaqin dengan doa yang dibacakannya akan ditolong dan diselamatkan oleh Allah ketika bertemu atau berpapasan dengan harimau di hutan, bukan berarti orang tersebut berharap atau dengan sengaja untuk berpapasan harimau dihutan, kemudian seperti test-cek untuk membaca doa tersebut.
Allah maha tahu apa yang ada dalam hati setiap manusia, Alah tidak pernah tidur dan lengah, lakukan apa yang kita yaqini  hanya karena Allah. Allah pasti akan menolong sesuai dengan cara-Nya.

Allah tergantung apa prasangka hamba-Nya. Kalau kita menganggap sesuatu yang belum jelas bahnyanya dan meyakini itu bahaya maka bisa jadi Allah akan menjadikan bahaya sesuai apa yang kita yakini dan takuti

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).


berikut nadhom syairan diijazahkan oleh ulama sufi kita sebagai penagkal wabah.



Walahua'alam
Mohon maaf kurang lebihnya
Sekedar menjadi pelajaran dan renungan
(achmad budiono)







Jumat, 24 April 2020

Mensikapi Covid-19 part 2 (pasca Ramadhon)

Pada part pertama sudah kita berikan gambaran bagaimana seorang muslim mensikapi Covid-19.
Tentunya secara logika akal sehat bisa kita simpulkan bahwa, virus corona itu memang ada, dan
virus korona itu mempunyai kemampuan untuk menular secara hebat seperti yang dikemukakan oleh para ahlinya dan sesuai kenyataan yang ada. Oleh sebab itu kita harus mengikuti (SOP) Standard Operasional Prilaku yang diterapkan oleh para ahli yang dimotori oleh para ulil-amri (pegawai pemerintahan) yang salah satunya adalah Social Distancing
yaitu membuat jarak atau membatasi pergaulan sosial antar individu.
Di jelaskan pada part 1 bahwa sebagai seorang muslim beriman, kita hendaknya mengikuti apa perintah Allah melalui Rosulnya, namun kita juga harus mengikuti perintah para ulil-amri jika untuk hal yang tidak bertentangan dengan keimanan.

Pada part 2 ini akan membahas tentang hubungannya dengan keimanan.
Seorang beriman (yakin) bahwa semua kejadian yang terjadi adalah menurut kehendak Allah.
Virus Corona ini ada dan terjadi serta menyebar, serta memimbulkan bahaya maupun yang hanya sekedar menjadikan cobaan adalah kesemuanya atas kehendak Allah. Bahwa terlepas dugaan virus corona ini ada karena rekayasa genetika di Lab oleh tangan manusia dan penyebarannya disekenariokan oleh sekelompok manusia, dan kalaupun itu campur tangan manusia kesimpulannya tetap semuanya dari Allah dan semuanya sepengetahuan oleh-Nya. Karena Allah menciptakan sesuatu dengan Kun-fayakun-Nya itu dilihat dari kacamata manusia, itu bisa dengan seketika, bisa juga melalui proses (seperti apa yang kita lihat kejadian seorang manusia). Dan Kun-fayakun ini
terserah pada Allah mau melalui proses dan wasilah-wasilah ataupun seketika itu.

Di bulan Ramadhon ini saat yang baik kita renungkan semua ini, apakah dengan semua ini adanya virus corona kita akan lewati begitu saja dengan ketakutan-ketakutan disaat-saat moment bulan yang penuh berkah ini?.
Bahkan saking takutnya sampai ada yang melarang orang bertadarus di masjid dengan speaker (seperti biasanya tahun-tahun kemarin)  padahal orang tadarus tersebut sendirian. yang tentu sudah memenuhi maklumat social distancing.
Maka disamping kita harus toleran juga (tidak usah ngengkel dan ngeyel) tapi kita pertanyakan juga keimanan orang yang melarang tadarus tadi walau hanya sekedar dalam hati yang mudah-mudah hanya sekedar bermaksud baik dan nantinya diberi petunuk oleh Allah.
Untuk melihat dan mensikapi itu semua, mari kita lihat dan kita ukur keimanan pada diri kita sendiri.
Bagi orang yang imannya masih pada level-lewel bawah seperti kita-kita ini, maka logika akal tentunya akan lebih mendominasi daripada iman kita. ukuran untung rugi, ukuran bahaya dan tidak bahaya masih jadi itung-itungan.
Untuk pergi ke masjid, maka kita masih itung-itungan, bahaya atau enggaknya, ditambah lagi dengan adanya maklumat Social distancing,
maka akan lebih banyak pertimbangan yang akan kita lakukan untuk sekedar mengisi bulan Ramadhon yang pernuh berkah ini.
Dengan ke Masjid dan melakukan sholat jammah saja kita sudah dianggap melanggar maklumat Social distancing dengan berbagai konswekwensinya, yaitu dianggap menentang bahaya, dianggap tidak patuh pada ulil-amri, bisa di cap sebagai orang yang bandel dan tidak toleran terhadap lingkungannya.
Itulah mungkin yang dipikirkan sebagaian besar dari kita sebagai seorang muslim yang masih mempunyai iman pas-pasan.

Untuk orang yang imannya masih pada level sayriat akan menganggap bahwa semua kejadian itu ada sebab-akibat yang mereka sebut "Sunnatullah"
itulah orang orang tersebut sering disebut orang berpaham Qodariah.
Tetapi bagi orang-orang yang mempunyai level keimanan lebih tinggi bahkan sampai makrifat, mungkin yang dipikirkan bukan seperti itu. "Bahwa semua dari Allah dan akan disandarkan kembali kepada Allah"
Apapun yang datang dari Allah terserah kehendak Allah, dan logika akal manusia tidak berlaku untuk hal ini. ini adalah sepenuhnya logika iman (keyakinan)

Apabila kita berbicara pada orang-orang yang berfaham Qodariah ini dengan orang orang yang berfaham Makrifatiah, tidak akan nyambung dan bisa jadi akan terjadi perdebatan yang sia-sia namun orang makrifat tidak kan mau berdepat lebih banyak.
Misal sebagai contoh :
Kita bertanya pada orang yang berpaham Qodariyah "api itu panas atau dingin?". maka mereka akan menjawab bahwa "api itu pasti panas".
Tapi orang yang mempunyai faham makrifat akan menjawab, "api itu panas atau dingin terserah Allah!"
kemudian orang yang berfaham makrifat akan berkata "mengapa kamu tidak mengambil pelajaran bahwa Nabi Ibrahim tidak terbakar oleh api?"
Kemudian orang yang berfaham Qodariya juga akan menjawab "Mereka kan Nabi, ya tentu beda dengan kita perlakuannya dihadapan Allah".

Iya, memang kadang kita-kita ini mengunci atau menutup diri kita ini dari apa yang sebenarnya Allah mempunyai kekuatan dan Maha kuasa atas segala sesuatu,
karena memang kemampuan iman kita ya seperti itu atau memang kita belum diberikan petunjuk oleh Allah karena kurangnya kedekatan kita dengnn-Nya karena masih banyaknya dosa-dosa yang ada pada diri kita.

Iya, jangan dipaksakan dan memaksakan diri, bukan berarti kita tidak ingin naik level.
Jika kita yang masih seperti ini tiba-tiba lancang dan memaksakan diri di level makrifat "ah..., aku tidak takut virus corona karena itu semua dari Allah maka terserah Allah apa yang ditimpakan pada kita" itu belum pada tempatnya.
Orang menuju sampai level makrifat tidak serta merta. ada berbagai proses yang harus dilaluinya dan dilampauinya.
Iman jelas, Ilmu jelas, sabar jelas, prihatin dengan kelaparan, kesulitan dan berbagai cobaan-cobaan yang telah dilaluinya, sehingga kedekatannya dengan Sang pencipta yaitu Allah tidak diragukan lagi.
Orang-orang seperti ini tidak butuh lagi pada dunia, juga tidak mengharap balasan di akhirat, tapi justru Allah akan melimpahkan rahmat dan Karuanianya baik di dunia maupun di Akhirat kelak

Iya pada moment bulan Ramdhon ini, mari kita tata dan perbaiki iman kita, hati kita, kita berusaha mendekatkan diri dan lebih dekat kepada Allah dengan menjalankan segala perintahnya dan menjahui segala larangannya, dengan beribadah yang baik dan benar, menambah ilmu dan wasasan, beramal sholeh, sabar dan prihatin, lebih peduli dengan sesama terutama orang-orang yang berkekurangan dan dalam kesulitan. secara konskwen dan kontinyu (istiqomah) tidak pernah bosan dan jemu. Sebagaimana Rosulullah Muhammad Sollallahualaihiwasallam contohkan, dan oleh para Rosul lainnya serta para Wali dan Ulil albab (orang-orang Taqwa yang berilmu)
Dari semua itu tidak mudah dan tidak serta merta.
"Sabar" misalnya harus dilandasi iman, Ilmu serta ketaqwaan kepada Allah.
Dengan Ilmu kita dapat megerti yang benar dan salah
Dengan ketaqwaan kepada Allah kita merasa orang yang hina dan tidak mempunyai apa-apa dihadapan Allah, sehingga kita sepenuhnya tergantung pada Allah.
Jika ada orang yang menghina, mencaci kita, menyalahkan kita, dengan ilmu dan ketaqwaan kita tidak lantas membalas orang tersebut atau menyalahkannya tapi selalu intstropeksi diri, jika kita yang salah maka kita perlu memperbaiki diri, jika kita merasa benar maka cacian atau hinaan orang tersebut sebagai rahmat bagi kita agar kita lebih bisa mendekat kepada Allah dengan mendoakan orang-orang tersebut karena mereka orang orang yang tidak mengerti.
Dengan sabar kita akan selalu bersyukur dengan semua Rahmat yang Allah berikan, tidak menutup-nutupi kebaikan yang ada, namun juga tidak sombong dengan megembar-gemborkan apa yang kita telah diberikan oleh-Nya sehingga menjadi ria.
Kalau semua itu bisa kita lakukan kemudian apapun yang terjadi kita serahkan kepada Allah, Insyaallah Allah akan menaikan Maqom (level) atau derajat kita dihadapan Allah, yang otomatis akan naik pula dihadapan Manusia.
Dan pasti Allah akan menolong orang yang selalu mencintai Allah sesuai dengan Maqom dan derajatnya (aku dekat engkau dekat-aku jauh engkau jauh)
Iya tidak usah menyalahkan yang salah, kalau bisa membenarkan yang belum benar atau kalau tidak mampu berserah diri-lah kepada Allah.
Allah maha tahu apa yang ada di dalam dada kita, kita tidak perlu ngeyel dan ngengkel pada mahluk. Namun yang kita perlu adalah tetap ber-amarmakruf Nahi munkar sesuai dengan kemampuan kita dengan cara yang benar dan indah karna Islam itu indah



2|155|Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

214|Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?  Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:  "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

21|35|Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).  Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Sekian semoga bermanfaat
(achmad budiono)

Kamis, 26 Maret 2020

Mensikapi Covid-19

Bagaimana Mensikapi Corana Virus?

Corana Virus atau yang terkenal dengan Covid -19,
Begitu menakutkan kah?
Begitu dahsyatnya kah?
Apa yang perlu kita upayakan dan kita usahakan?.
Apakah kita harus meninggalkan kebersamaan dengan berkumpul-kumpul bersama saudara sahabat dan handai taulan?
Apakah kita harus meninggalkan tradisi mulia yaitu saling bersalaman?
Apakah kita harus berhenti tidak bekerja dan bepergian walau itu bermanfaat?
Apakah kita harus tidak pergi ke majelis-majelis taklim dan majelis dzikir?
Apakah kita harus tidak ke Masjid untuk sholat berjama'ah dan sholat Juma'at?
Apakah anak-anak kita harus tidak ke sekolah dan ke madrasah serta TPQ untuk mencari ilmu dan mengaji?.

Sebelum menjawab semua itu ada pertanyaan pokok yang akan menetukan jawaban berikutnya.
Apakah anda benar-benar seorang yang beriman?,
Beriman pada Allah?,
Beriman malaikat malaikatnya?,
Beriman pada kitab-kitabnya (Alquran)?
Beriman pada para Rasul?,
Beriman pada hari Qiyamat dan kebangkitan?,
Beriman pada yang Goib, Qodo' dan Qodar?,


Kalau tidak maka anda tidak perlu membaca lanjutan tulisan ini.
Kalau anda seorang beriman masih ada pertanyaan lagi yang harus dijawab yaitu.
Masihkah anda takut mati?.
Iya sebagai konsekwensi orang beriman tentu tidak harus takut mati yang tidak akan pernah bisa dihindari, tetapi  mati dalam keadaan tercela dan terhina dengan iman yang tidak terbawa itulah yang benar-nenar harus kita takuti.
Sebagai konsekwensi seorang beriman kita tidak takut kepada siapapun kecuali kepada yang Maha Segala Allah Ta'ala.

Lalu bagaiman dengan "dilema" larangan dan anjuran yang ada?
Bahwa pemerintah dan juga melalui majelis Ulama Indonesia, pemeritah tidak hanya menganjurkan untuk tidak,  bahkan sudah melarang untuk bekumpul dalam kelompok kelompok di tempat-tempat umum dan juga tempat-tempat ibadah untuk kegiatan apapun termasuk ibadah (sholat berjamah, sholat jumat, pengajian, sekolah dll.) dalam waktu yang tidak ditentunkan batasnya. Begitu juga fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menjadi rujukan sebagaian besar umat Islam di Indonesia.

Iya memang mentaati Pemerintah dan para Ulama diperintahkan juga oleh Alquran yang menjadi pedoman bagi orang beriman :

4|59|Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.  Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),  jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Terus bagaimana dengan yang ini?

9|18|Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat,  menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah,  maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk

24|36|Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,

24|37|laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang,  dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

3|32|Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir"
3|132|Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat



47|33|Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.

3|103|Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,  dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan,  maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.  Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

3|146|Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa.  Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah,  dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

Dan banyak lagi dari hadist-hadist yang menganjurkan keutamaan-keutaman untuk "berkumpul" dan berjamah, terutama untuk  sholat dan jamaah-jamaah lainnya yang saya pernah dengar dan baca (maaf tidak bisa menyebutkannya satu persatu per tulisan ini).

Iya tidak ada pemerintahan yang menginginkan kejelekan dan keburukan terhadap rakyatnya kecuali pemerintahan yang dholim.
Semua apa yang diupayakan pemerintah bermaksud untuk kebaikan-kebaikan bersama yang lebih besar.

Sudah semestinya sebagai orang beriman kita berupaya mentaati Allah dan Rosulnya sekuat tenaga, seperti yang sering kita ucapkan pada doa sehari-hari "Allah humma anta robbi la-illahailla anta kholaqtani waana abduka......" yaitu "Aku berjanji, menepati janji sekuat tenagaku...." untuk taat dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan keji dan munkar.
Bahwa mentaati ulil amri (pemeritah dan ulama) bukan bagian perbuatan keji dan munkar, karena disitu tidak ada larangkan untuk tidak percaya kepada  kepada Ketauhitan (perusakan iman)

*Ulama adalah perpanjangan (wakil) pemerintah untuk urusan bidang keagamaan (Islam)
*Alim Ulama adalah perpanjangan dan penerus para utusan Allah, yaitu Rosul-Allah

Iya, tapi bukankah  melakukan sholat berjamaah dan memakmurkan masjid suatu perintah dari Allah dan rosulnya juga?.
Iya benar, untuk larangan sesuatu alasan yang ada dasarnya dan bukan mengada-ada untuk tujuan menghindari kemudorotan yang lebih besar juga sering dicontohkan dalam berbagai kehidupan nabi dan rosul-rosul terdahulu untuk menghadapi kondisi kondisi darurat.
Bahkan dalam zaman Rosul-Allah dalam kondisi perang sholat di dalam masjid sangat tidak dianjurkan sampai-sampai dibuat aturan sholat dalam keadan siaga peperangan.
Bahkan yang jelas-jelas larangan saja (haram) dalam kondisi tertentu diperbolehkan.

2|173|Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Intinya sebagai orang beriman apapun yang terjadi disana yang menjadi penyebab kematian kita tidak perlu takut, karena kalau Allah sudah menetapkan mati dengan sebab-sebab seperti seperti itu tidak akan ada yang bisa menghindarinya,  "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Namun kita juga jangan menentang (sembrono) tanpa upaya pasrah dengan keadaan tanpa mau berupaya.
Qodho' berlaku dengan ketetapannya dan kodarnya berlaku dengan sebab akibat. Apapun upaya yang kita lakukan harus selalu tetap bergantung dan berserah diri pada Allah sang Pencipta, Insyaalah Allah akan membimbing kita dengan rahamatnya dengan petunjuk-petunjuknya melalui mata hati kita sehingga tidak perlu mengatakan lagi "jika tidak seperti ini maka itu salah" karena jika sudah demikian cukup Allah lah yang maha tahu apa yang ada di dalam dada kita melebihi apa yang kita tahu sendiri.


Sebagai pengingat pada akhir zaman, yang kita tidak tahu akhir zaman itu kapan akan ada fitnah yang sangat besar bagi manusia, yaitu fitnah Dajjal.
Dikatan Dajjal akan muncul atau keluar seiring memudarnya atau hilangnya suara Adzan di muka bumi dengan kata lain mulai hilangnya orang-orang yang sholat berjamaah di Masjid-masjid.
Yang perlu dingat Dajjal dicirikan atau dikatakan mempunyai sifat seperti penyepuh (pembuat kepalsuan).
Dengan mata kepala akan sulit untuk bisa melihat ciri-ciri fitnah Dajjal tersebut, tetapi dengan mata hati-lah orang akan mampu dan bisa melihat ciri-ciri fitnah Dajjal tersebut.
Agar mata hati kita tidak buta terhadap ciri-ciri fitnah Dajjal sehingga tidak menjadikan kita terpedaya olehnya, maka mohonlah dan berdoa-lah kepada Allah setiap saat terutama selesai sholat, karena orang yang sholat-pun dikata tidak serta merta mampu menghadapai fitnah Dajjal yang sangat besar dan hebat tersebut, Juga bacalah Surat Al-Kahfi sering-sering atau hafalkan dan bacalah sepuluh surat pertama atau terkahir.
Dan ingat,  dikatakan nanti yang paling banyak terpedaya dengan fitnah Dajjal adalah kaum perempuan!.

Demikian semoga bermanfaat,
Terimakasih
achmad budiono

maaf dalam berbagai tulisan kami mencatut ayat Alquran hanya terjemahannya saja
bukan bermaksud meninggalkan bacaan aslinya begitu saja, namun kami tetap berharap
bagi pembaca untuk tetap mencintai Alquran dengan membaca dan mendengarkan sesuai bacaan aslinya dengan cara membaca yang benar dan indah. Ini hanya masalah teknis yang mudah-mudahan
kalau saya masih diberi kesempatan dan waktu masih bisa membenahinya, kalaupun tidak
mudah-mudahan nantinya ada saudara kita yang bisa membantu untuk itu.

Berikut terjemahan beberapa Ayat Alquran terkait hal tersebut di atas yang patut direnungkan :

13|11|Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya,  mereka menjaganya atas perintah Allah.  Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.  Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya;  dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

3|145|Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah,  sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia,  niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat,  Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

3|168|Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: "Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh".
Katakanlah: "Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar"

3|154|Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah.
Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?".
Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah".
Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini".  Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh".
Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.

Orang Intelek


Orang  intelek dan orang yang diberi petunjuk
Analogi :
Ada tempat yang belum diketahui oleh 2 orang untuk pergi ke tempat tersebut,  seorang disebut sang Intelek, seorang disebut Hidayah.
Sebelum pergi menuju tempat tersebut sang Intelek mencari tahu lokasinya dengan mengandalkan berbagi informasi yang ada, mulai dari survei dan observasi jalan, bertanya kepada beberapa nara sumber, kemudian sang Intelek merangkum dari berbagai upaya tadi namun ada yang terlupa disertakan sebagai petunjuk sehingga ia sang Intelek menjadi ragu apakah jalan tersebut jalan yang benar atau dia salah arah. Karena ia ragu maka ia kembali dan mencari petunjuk jalan yang benar tadi, barulah sang Intelek bisa melanjutkan perjalan sesuai petunjuk tadi. Syukurlah akhirnya sang Intelek sampai ke tempat tujuan dengan keadaan yang masih baik walau sempat tersesat, yang hampir-hampir tidak bisa mecapai tempat tujuan.
Beda lagi dengan Hidayah, dia sebetulnya bukan orang yang berpengalaman dan pintar tapi juga bukan orang yang bodoh. Ia sebenarnya orang yang rendah hati dan sabar sehingga banyak teman dari berbagai kalangan. Maka ketika Hidayah akan melakukan perjalanan yang dirasa sulit oleh teman-temannya tadi, maka diantara teman yang benar dan pernah melakukan perjalan ke tempat tersebut memberikan petunjuk dan panduan yang jelas, maka berangkatlah Hidayah ke tempat yang dituju sesuai petunjuk yang jelas tersebut yang akhirnya bisa mencapai tujuan dengan mudah.

sekedar renungan semoga bermanfaat.
Achamad Budiono

Sabtu, 21 Maret 2020

KECERDASAN MANUSIA VS KECERDASAN ALAT (MESIN)

Banyak orang mengatakan atau menyebut "alat pintar" atau "mesin pintar" dan banyak lagi istilah istilahnya misalanya mulai yang namanya "kalkulator", "komputer","smart tools", "smart gadget", "smart phone" CNC machine, Smart Driver dll. hasil dari pada hitech (tehnologi tinggi) kemajuan zaman.
Bahkan banyak kalangan yang menyebut dirinya ahli atau pakar bahwa pada saatnya nanti kecerdasan manusia akan diambil alih oleh alat atau mesin, yang akhirnya lahirlah berbagai macam filem fisksi seperti Cyborg, Bionic-man atau woman, dan lainnya yang menngabungkan kekuatan mesin dengan kekuatan manusia yang bisa melahirkan suatu manusia super.

Yang jadi pertanyaan apakah memang alat atau mesin pintar tadi mempunyai kecerdasan yang mampu mengalahkan kecerdatasn manusia?.
Sebelum memberikan jawaban justru ada pertanyaan baru yang muncul "apa sih cerdas itu?".
apakah yang ini?,
cerdas atau kecerdasan adalah "kemampuan seberapa cepat dan akurat menentukan suatu perhitungan-perhitungan, serta seberapa banyak kemampuan mnyimpan, mengingat dan mengolah suatu informasi".
ataukah yang ini?.
cerdas adalah "mampu membuat dan menyususun analisa dan memecahkan suatu case atau permasalahan yang ada baik dengan perhitungan cepat dan akurat"
ataukah gabungan dari keduanya?.
Jika jawaban pertanyaan baru itu belum diperoleh saya rasa susah untuk menjelaskan pertanya yang sebelumnya "difficult explain"

Baiklah kalau begitu lebih baik kita cari dulu perbedaan kecerdasan manusia dan kecerdasan mesin atau alat.
Kecerdasan manusia :
Kecerdasan manusia adalah kecerdasan yang dihadiahkan oleh Tuhan kepada manusia melaui akal.
Setiap manusia mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda tergantung kehendak Tuhan yang memberinya.
Kecerdasan manusia itu bisa bertambah dengan menstimulasi dan mengasah akal yang masih sehat
dengan cara belajar sesuai sunnatullah yang diberikan Tuhan.
Kecerdasan manusia hasil dari rasio berpikir yaitu melihat, mendengar, merasa, kemudian membuat perbandingan yang dikombinasi dengan naluriah bawaan yang diberikan Tuhan.
Perbandingan yang dihasilkan dari rasio berpikir tadi kadang dibutuhkan perhitungan.
perhitungan hasil rasio tadi bisa jadi perbandingan dengan angka-angka atau bisa jadi hanya sebatas comparison (perbandingan),
misalnya sesuatu itu baik atau buruk, sesuatu itu enak atau tidak enak, sesuatu itu "benar atau salah".
Baik atau-pun buruk, enak dan tidak enak tidak akan bisa dihitung, paling diberi perbandingan dengan level ini dan itu.
Benar dan salah dalam tanda ("..") kalau dalam angka-angka adalah sebenarnya kebenaran dalam kesepakatan.
misalnya 1+1=2 maka kalau tidak 2 adalah salah.
sedangkankan yang mutlak adalah obyek dengan obyek yang benar hasilnya adalah seperti itu.
misalanya air 1 gelas ditambah susu 1 gelas hasilnya ya seperti itu, sunnatullah,  bukan kesepakatan!.

Kecerdasan akal sehat
IQ, EQ, ESQ itu hanya sekedar istilah untuk mengelompokkan dari berbagai sifat kecerdasan manusia tadi
mana yang lebih dominan atau menonjol

misalnya : ada air yang mendidih, walaupun tidak pernah menghitung berapa derajat celcius air mendidih itu tetapi orang yang cerdas pasti tahu bahwa kalau tangan dimasukkan ke air mendidih tadi akan lonyot.,
atau orang berdiri di atas menara setinggi pohon kelapa yang tinggi, kemudian meloncat ke-bawah dengan dasar dari cor beton, orang yang cerdas akan membuat kesimpulan bahwa pasti orang akan mati ketika sampai bawah membentur cor walaupun tidak tahu berapa meter tinggi menara dan berapa kecepatan jatuh orang tersebut. Logic seperti bisa didapat dari pengalaman maupun hasil belajar atau pemberitahuan selumnya dan juga dari naluriah yang diberikan langsung oleh Tuhan.
Logic seperti ini yang tidak dimiliki oleh mesin atau alat itu sendiri, kecuali memang parameter-parameter algoritma-nya sudah dimasukkan kedalamnya.
Mesin atau alat bisa menjalankan perhitungan-perhitungan dan prediksi-prediksi (analitic) karena adanya program alqoritma yaitu perhitungan melalui kode-kode tertentu dan parameter yang disinkronkan dengan kode-kode yang telah dimasukkan yang disesuaikan dengan nilai dan karakter electromagnetic-nya itu sendiri. Kode-kode tersebut sebenarnya kode yang hanya bisa direspon oleh yang namanya electromagnetic yaitu berupa (pola putus nyambung)  dalam istilah pemograman adalah kode binary yaitu berupa formasi angka 1 dan 0 yang akan diubah menjadi pulse electromagnetic
putus nyambung yang diolah pada suatu rangkaian sirkuit electronic, IC (Integrated Circuit) atau yang lebih canggih disebut Processor
Yang setiap formasi bisa menyebabkan sebab dan akibat, seperti pola-pola grafis (gambar), pola-pola suara (voice) serta pola gerak.  dan memungkinkan algoritma sebab dan akibat itu bisa tersimpan pada media tertentu misalnya, disket, CD room, Hardisk dll., yang sewaktu-waktu dapat dibutuhkan merespon integrated sircuit kembali, baik dengan pola yang sama atau bisa  menggabungkan berbagai pola lainnya secara integrated (berpadu).
Adanya pola timbal balik secara "terbatas" ini-lah input alogaritma electromagnetic tidak hanya berlaku satu arah, tetapi bisa dua arah secara "terbatas" sehingga terciptalah beberapa perangkat alat input seperti keypad, keyboard, mouse, dan berbagai sensor, sensor gerak, sensor voice, dll.,  maka terciptalah alat baca algoritma otomatis, seperti scanner, camera digital, CCTV dll.
Sedangkan untuk outpunya terciptalah semacam mesin printer, mesin photocopy, mesin CNC dll..

Jadi disini sudah jelas bahwa mesin tidak bisa berpikir logis seperti berpikirnya manusia tapi hanya sebatas menjalankan program berdasarkan kecerdasan Algoritma  dan Logaritma melalui rasio-rasio atau perbandingan dengan parameter-parameter yang sudah dimasukkan sebelumnya.
Iya canggih namun masih "terbatas"

Antara Logis dan Rasional

contoh : hitung dengan matematika yang benar tetapi asumsinya tidak logis.
jika sehari seseorang minum dengan 10 galon air sehari, berapa galon air yang dibutuhkan dalam seminggu jika seminggu adalah 9 hari.?, maka jika dijawab 90 galon air, maka matematikannya (rasionalnya) tidak salah, tetapi kedua variabelnya adalah tidak logis.
Begitu juga kalkulus yang merupakan bagian dari ilmu matematika.
memang kalkulus butuh rasional atau tidak rasional, tetapi tidak membutuhkan logis atau tidak logis.
seperti halnya algoritma komputer, tidak perlu logis atau tidak logis, asal algoritmanya benar ya jalan itu program komputer.
misalnya bikin game manusia super yang bisa angkat ratusan ton beban,  asal algoritmanya benar, tidak akan ditolak komputer dengan alasan tidak logis.
Contoh lain mesin CNC: algoritma programnya benar, tetapi dimasukkan parameter yang tidak sesuai maka mesin akan berjalan kacau,  bahkan mesin tidak bisa berjalan atau bekerja alias (error).

Bahkan kecerdasan sebuah mesin yang canggih sekalipun masih kalah dengan naluri se-ekor binatang seperti lalat,  apalagi dibandingkan dengan manusia.
Haihata haihata, jauh bro!.

Kalau, gak percaya kumpulkan para saintis dan gunakan semua teknologi yang ada untuk menciptakan seekor lalat, pasti dijamin gak akan mampu.

iya mungkin itu yang bisa saya sampaikan untuk membandingkan kecerdasan manusia dengan kecerdasan mesin atau alat.

semoga bermanfat,
achmad budiono

Rabu, 18 Maret 2020

Logika Manusia dan Tuhan

Logika Manusia dan Tuhan.
Logika adalah suatu pola pikir yang dimiliki oleh manusia memandang sesuatu dengan berdasarkan akal.
Logika ini bisa muncul dari berbagai penggabungan unsur diantaranya, penglihatan, pendengaran, dan rasa (yang ditimbulkan
oleh panca indra). Sedangkan perasaan adalah suatu reaksi yang diterima oleh indra dan akal manusia yang akan
direspon (diolah) oleh hati. Disini, perasaan bisa meleburkan logika karena tergantung karakteristik hati yang mengolahnya,
karena karakteristik hati itu berbeda-beda, ada yang lembut (sensistif), keras, sedang dll, seperti halnya akal ada yang cerdas dan bebal.
Logika dan perasaan ini timbul karena berbagai pengalaman yang pernah direspon oleh akal maupun hati

Kembali ke logika manusia.
Manusia diberikan akal dan indra  oleh Tuhan agar manusia bisa berpikir tentang ciptaan-Nya maupun keberadaan-Nya.
Tapi perlu diingat tidak semua apa yang diciptakan Tuhan bisa direspon oleh indra manusia, seperti
hal-hal yang goib dan keberadaan Tuhan-pun tidak bisa di respon atau dideteksi dengan indra manusia.
Jadi sebenarnya kemampuan akal manusia yang direspon dari indra manusia itu terbatas. Itu mengapa Tuhan memberikan
yang namanya petunjuk. Petunjuk itu bisa diberikan melalui perwakilan ataupun personal.
Petunjuk yang diberikan lewat perwakilan atau utusan  yaitu Rosul, ada yang dituangkan melalui Kitab ataupun perkataan
ataupun juga perbuatan. Sedangkan petunjuk yang diberikan Tuhan secara personal biasa disebut Hidayah.

Jadi apakah Logika Manusia dan Tuhan itu sama?
Logika manusia yang benar dan tidak sesat tidak akan bertentangan dengan logika Tuhan, tetapi logika Tuhan itu tidak sama dengan logika yang dimiliki manusia.  Jelas karena salah satu sifat Tuhan itu berbeda dengan Mahluk (ciptan-Nya).
Logika manusia yang benar itu menurut dan sesuai dengan apa yang Tuhan ciptakan dan gariskan, Sedangkan logika Tuhan itu tak terbatas, karena Tuhan Maha kuasa terhadap segala sesuatu tergantung kehendaknya. Jadi manusia bergantung kepada Tuhan sedangkan Tuhan tidak bergantung kepada siapa dan apapun.

Logika tentang Ciptaan Tuhan :
Diterangakan dalam kitab Alquran, sebagai salahsatu petunjuk Tuhan yang diberikan kepada Manusia, Bahwa Tuhan menciptakan Alam semesta itu dengan tujuan yang benar, (tidak bermain main). Dan apa yang diciptakan oleh Tuhan di dunia tujuaan-Nya adalah untuk Manusia, mahluk terbaik yang diciptakan oleh Tuhan.
Setelah kita tahu apa tujuan Tuhan Menciptakan alam semesta dunia ini, mari kita tengok,
Adakah yang cacat (tidak masuk logika)?.
Coba ulangi lagi pandanglah, lihatlah, dengarkanlah, pikirkankanlah, rasakanlah adakah yang cacat?

Kalau masih ada saya yakin logika anda yang sesat.
Coba tengok apakah Tuhan menciptakan sesuatu tidak ada yang tidak berguna bagi manusia?.

Kalau anda berpandangan bahwa bumi ini setitik debu di jagat raya, maka kemungkinan logika anda adalah logika yang sesat.

Mari berlogika! :
Jika Tuhan menciptakan planet-planet yang besarnya melebihi bumi tempat manusia, jutaan bintang yang ukurannya konon bisa sangat besar dibanding dengan ukuran bumi tempat tinggal manusia, dan bintang-bintang  maupun planet yang keberadaanya sangat jauh dari jangkauan manusia tetapi diciptakan begitu komplek dan besar dengan fungsi yang tidak jelas bagi manusia.
Bukankah Tuhan sudah mengatakan bahwa fungsi bintang adalah sebagai hiasan, dan petunjuk arah serta alat pelempar setan?.
Sebagai arsitek-segalah arsitek dan yang maha teliti, apakah Tuhan begitu tidak proposionalnya menciptakan alam semesta ini?.
Hanya untuk menerangi bumi ini apakah sebegitunya Tuhan menciptakan alat penerangan (Matahari) sampai ukurannya 100x lebih
benda yang diterangi (bumi)?. Arsitek dari kalangan manusia saja akan berpikir bahwa ini tidak logis dan proposianal.
Banyak pertanyaan lain agar kita berlogika, dan jika logika kita tidak sesat maka pasti akan menemukan jawaban yang benar.
Misal :
Mengapa Tuhan menciptakan besi berlimpah tetapi berlian, Emas tidak dengan berlimpah?.
dll.,
dlll.,
dlllll....

Oke silakan berpikir dan berlogika, apakah logika anda benar atau sesat?.

Contoh lain apa gunanya Tuhan menciptakan mahluk-mahluk, yang jika di tengok dengan logika sesat seolah-olah mahluk itu tidak berguna bagi manusia misalnya:
Apa guna Tuhan menciptakan nyamuk, Kecoa, cacing pita, dan bermacam-macam lainnya yang menjijikkan dan yang lebih kecil dari itu,
misalnya berbagai kutu dan parasit, virus HIV, virus Corona dll, dll..?
Sekali lagi  adakah ciptaan Tuhan yang cacat?
Apakah fungsi atau guna kecoa bagi manusia?
Salah satu fungsi mahluk-mahluk yang menjijikkan diciptakan oleh Tuhan bagi manusia adalah agar manusia hidup dengan pola bersih dan sehat.

Apa fungsi atau manfaat Virus Corona bagi manusia?.
Apa virus corona bermanfaat bagi manusia?.

Untuk berlogika apa manfaat virus corona bagi manusia sebetulnya tidak-lah begitu sulit kalau kita sudah bisa memahami dasar dan tujuan dasar setiap mahluk ciptaan Tuhan (mahluk hidup atau-pun benda mati) diciptakan-Nya bagi manusia.

Sebagai dasar pemahaman bahwa : setiap mahluk yang diciptakan Tuhan itu bisa mendatangkan "manfaat" atau "mudarat" bagi manusia,
yang artinya setiap sesuatu diciptakan Tuhan itu mempunyai dampak atau pengaruh kepada manusia.
Jika Tuhan menjadikan "mudarat" bagi manusia, sebetulnya Tuhan menciptakan manfaat bagi manusia melalui dua sisi yaitu, menjadikan mudarat bagi sebagian yang lain agar menjadi manfaat (pelajaran dan hikmah) bagi sebagian yang lain.

Maka, jika ada manusia yang bilang Tuhan menciptakan ini dan itu, kemudian logika sehat kita berbicara, apakah yang diciptakan Tuhan tersebut bisa mendatangkan "manfaat" atau "mudarat" bagi manusia?,  maka jika tidak jangan percaya dengan apa yang dikatakanya tadi.

Bila ada yang mengabarkan bahwa ada planet atau bintang yang lebih besar dari bumi yang jauhnya setara ribuan tahun cahaya, yang menurut logika tidak mungkin bisa memberikan "manfaat" pada manusia (walaupun sekedar manfaat keindahan, menambah indahnya langit misalnya), dan juga tidak akan pernah bisa menimbulkan "mudarat" bagi manusia, maka anggap saja hanya sebuah kabar atau berita HOAKS.

Demikian hanya sekedar contoh, bahwa logika manusia yang tidak sesat tidak akan bertentangan
dengan logika Ketuhanan, tetapi apa yang ada pada Tuhan tergantung apa yang Tuhan kehendaki.
Dengan kata lain apa yang terjadi pada manusia dan semua ciptaan Tuhan harus selaras dengan apa kehendak Tuhan,
tetapi Tuhan tidak butuh selaras dengan kehendak manusia dan semua ciptaan-Nya.
Masih adakah yang cacat?, apa memang pandangan kalian yang sungguh payah?


Berfikir dan berfikir untuk melihat kebesaran-Nya,
Semoga bermanfaat
achmad budiono