Rabu, 26 Juni 2013

Etika berkomentar di Internet dan ID palsu


Ketika anda membaca berita atau apapun yang  telah di publish di internet maka anda sering mendapatkan kolom komentar yang dapat diisi oleh siapapun yang mendaftar, bahkan ada yang tanpa perlu mendaftar.
Sering mendapatkan isi komentar ada yang serius, ada yang seadanya bahkan ada yang tidak patut.
Dari berbagai macam komentar yang dikeluarkan tersebut, saya pelajari bahwa orang yang mencantumkan ID (identifikasi/jati diri) dengan benar akan cenderung berkomentar positif dan berhati-hati dalam berkomentar, sedangkan orang yang mencantumkan ID alias masih bisa mengontrol komentarnya, sedangkan yang palsu (anonymous) akan cenderung memberi komentar semaunya yang terkadang begitu berani, vulgar dan tanpa etika. Kita bisa lihat contoh yang jelas di beberapa media online pada kolom komentar-komentarnya bagaimana orang-orang yang menggunakan nama samaran atau palsu.
Hollow- man dengan topeng pembalutnya

Jika anda pernah menonton filem "Hollow-man" ada yang dapat kita ambil pelajaran. Ketika kita masih visible atau bisa dipantau orang lain maka apa yang diperbuat akan selalu mendapat kontrol yang lebih baik, tetapi ketika anda menjadi invisble (tidak terlihat) maka apa yang anda perbuat akan cenderung liar atau semau gue.
Tetapi pada dasarnya manusia adalah makluk visible yang selalu punya keinginan untuk diakui existensinya. Pada filem Hollow-man menggambarkan hal tersebut, ketika menjadi tidak terlihat dan bisa berbuat semau gue ternyata tidak menjadikan dia puas tetapi malah menjadikan dia frustasi karena keberadaanya tidak jelas.


Bagaimana dengan anda, apakah memilih menjadi orang yang gentle dengan ID yang jelas atau orang picik dengan ID palsu yang akan membuat anda bisa berbuat lebih bebas tanpa diketahui siapapun siapa sebenarnya anda.

Jika anda takut komentar anda tidak didengar bahkan anda akan dibully  karena anda tidak sependapat dengan kebanyakan kompetator lainnya maka anda tidak perlu berkecil hati sehingga membuat ID palsu.

Dan belum tentu yang kelihatan exist dan mendominasi di media sosial adalah adalah mereka benar-benar sebanyak yang kita lihat kemunculannya, tetapi mereka sesungguhnya hanya beberapa gelintir orang yang menggunakan ID kloningan untuk tujuan tertentu, bahkan satu orang bisa mempunyai ribuan bahkan jutaan ID di media sosial dengan tehnologi yang ada sekarang ini.

Berikut ini mungkin bisa dijadikan pelajaran dan strategi bagi yang ingin bersuara/menyampaikan suatu pemikiran.
sebagai ibarat,:
anda berbicara bahwa kucing dalah binatang yang cantik dan lucu, ketika anda berbicara kepada orang yang menyukai kucing hal itu adalah benar sekali, tetapi ketika pembicaraan anda sampaikan ke sekelompok tikus maka anda akan dihujat, dibully dan di maki.
dan ketika berbicara kepada kucing bahwa daging tikus adalah daging yang kotor, menjijikkan dan banyak mengandung penyakit, maka anda dianggap berbicara ngawur.
-yang ingin suara didengar dan didukung : silakan berbicara pada kelompok atau ruang lingkup yang tepat.
-yang ingin menyamapaikan realita : silakan berbicara sesuai fakta dan jangan kecewa apabila penyampian/pemikiran anda tidak di hargai, paling tidak anda merasa lega telah menyampaikannnya.

Semoga bermanfaat,
Achmad Budiono

Selasa, 05 Maret 2013

MULTI PURPOSE DEPTH TUNNEL

Apa itu "MULTI PURPOSE DEPTH TUNNEL"??.
Multi Purpose Depth Tunnel atau Deep Tunnel kalau dalam bahasa Indonesia adalah " Trowongan Multi guna di kedalaman tanah" atau cukup dengan pengertian trowongan multiguna.
Trowongan multiguna ini biasanya dirancang untuk beberapa keperluan sekaligus, misalnya untuk saluran air, pengendali banjir, akses jalan atau jalan raya, dan saluran utilitas seperti kabel telekomunikasi, pipa air minum, pipa gas dll.
Bagaimana trowongan multiguna ini diterapkan jika digabungkan antara jalan raya dan saluran pengendali banjir?.
Dengan teknologi yang ada semua itu bisa dibuat, tetapi yang perlu dipertimbangkan adalah kelayakan secara finansial, karena selain biaya konstruksi biaya operasional dan perawatannya sangatlah mahal.
Jika ingin membangun trowongan multiguna dengan memadukan jalan raya dan saluran pengendali banjir yang sangat penting diperhitungkan adalah elevasi (perbedaan) tinggi rendah antara daerah banjir dan lokasi saluran pembuangan. Jika elevasi tidak memenuhi syarat (terlalu datar) maka kecepatan aliran yang ada di saluran/trowongan kemungkinan tidak akan mampu mengimbangi air yang tekonsentrasi di daerah yang kebanjiran, dan agar kecepatan aliran bisa di tingkatkan maka diperlukan pompa yang mestinya biaya operasional dan perawatannya tidaklah murah. Selain itu ancaman sedimentasi dan kotoran sampah adalah musuh utama  saluran air di depth tunnel.

Berikut ilustrasi bagaimana Depth Tunnel bekerja mengendalikan banjir.

  
 
Jika kedaan normal maka Control Pump tidak perlu dioperasikan, tetapi jika diperlukan agar kecepatan aliran ke pembuangan bertambah maka pompa perlu di operasikan.
Selain mengontrol aliran, fungsi pompa diperlukan apabila diperlukan untuk menguras saluran di depth tunnel jika diperlukan perbaikan atau sekedar pengeringan.

  



Semoga bermanfaat,
oleh Achmad Budiono



Sabtu, 12 Januari 2013

Membandingkan Gubernur Jakarta (Joko Widodo) dan Walikota Surabaya (Tri Rismaharini)



*Maaf tulisan ini hanya pendapat pribadi penulis dan mungkin sama dengan sebagian orang, tetapi mohon maklum jika tidak sependapat

Gubernur Jakarta Joko Widodo (Jokowi)  saat ini menjadi sosok yang paling banyak dibicarakan di semua media, mulai media cetak, Televisi dan online karena reputasi gaya dan caranya memimpin. Gaya atau style yang merakyat dan ndesoni  ini-lah yang paling menjadi sorotan.  Bahkan Jokowi dinobatkan sebagai walikota  urutan nomer 3 terbaik di dunia menurut (The City Mayors Foundation) ketika mejabat sebagai walikota Solo.
Untuk ruang lingkup Kota Solo Jokowi bisa dianggap berhasil dan mempunyai reputasi yang sangat bagus, lalu bagaimana dengan ramalan keberhasilan memimpin Sebagai Gubernur Jakarta, apakah akan mengantarkan Jokowi sebagi Gubernur yang berhasil pula?.

Jakarta bukanlah Solo dan orang-orang yang tinggal di Jakarta tidak seperti orang-orang yang tinggal di Solo.  Jakarta adalah kota megapolitan dengan permasalahan yang sangat komplekssss1000x. Dengan  berbagai problemya maka untuk memipin Jakarta agar dapat menjadi lebih baik deperlukan syarat-sayarat pemipin yang mempunyai kemampuan kompleks pula.

Seperti apa pemimpin yang mempunyai kemampuan kompleks itu?
  • Tegas :  ya perlu tapi tidak cukup,
  • Jujur :  ya perlu tapi tidak cukup,
  •  Peduli :  ya perlu tapi tidak cukup,
  • Visioner :  ya perlu tapi  masih belum cukup.
Dan syarat yang tidak boleh ditinggalkan adalah “ mempunyai kompetensi” atau pengetahuan yang memadai dari semua aspek permasalahan dan harus mempunyai "power of sense" dalam hal decision atau pengambilan keputusan.
"Power of sense"  adalah  kemampuan seorang pemimpin untuk memutuskan sesuatu yang dianggap benar menurut rasa/insting yang dimilikinya tanpa harus mendengar dan melihat permasalahan secara keseluruhan.
Seorang pemimpin seharusnya sudah tahu apa yang perlu diperbuat hanya dengan observasi singkat.
Jika seseorang mengambil keputusan harus didahului dengan "public hearing", atau survei dan mengumpulkan pendapat dulu cocoknya bekerja dibidang surveyor atau statistika saja dan tentu-lah keputusan-keputusannya akan dipengaruhi dari hasil observasi dan public hearing tersebut yang terkadang dari hasil tersebut terdapat bermacam-macam masukan kesimpulan, yang butuh filter yang benar dan jika filternya salah maka keputusan yang sudah memakan waktu tersebut sama saja tidak ada gunanya.

Apakah "Power of sense" bisa disamakan dengan "Otoriter"?
Jelas beda.
Power of sense berdasarkan atas kemampuan rasa dan keyakinan atas kebenaran yang memang  harus dilaksanakan dengan segala konsekwensinya dengan harapan mendapatkan manfaat/kebaikan, sedangkan Otoriter yang dipaksakan berdasarkan atas kemauan/ego dan kepentingan tertentu yang belum tentu mendatangkan manfaat.

Bagaimana dengan Jokowi?
Menurut pengamatan saya.... (sorry kalau berlagak jadi pengamat)
Tegas : ya,  Jujur : mungkin ya, Peduli: sangat peduli terutama pada kalangan bawah, tetapi tidak begitu dengan kalangan menengah keatas yang notabene mempunyai kemampuan finansial yang apabila diakomodir dengan tepat bisa mensupport kesejahteraan kalangan bawah.

Bagaimana dengan Kompetensinya?.
Untuk kota sekelas Solo sangat bagus, tetapi untuk sekelas Jakarta sepertinya hanya faham permasalahannya 10% saja.

Untuk perbandingan coba kita membuat perbandingan dengan tokoh yang mempunyai lingkup kepempinan yang hampir sama dan mempunyai kemiripan permasalahan yang dihadapi, yaitu Joko Widodo Memipin Jakarta dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang memimpin Surabaya, walaupun bisa dikatakan kurang fair jika dibandingkan dengan besaran beban yang harus ditanggung, tetapi setidaknya mempunyai permasalahan tidak jauh berbeda.

Saya mulai meniali dari Jokowi sampai Hari Ini (lebih kurang dua setengah bulan memimpin Jakarta) :
Jokowi dalah sosok pimpinan yang  diidamkan oleh Jakarta untuk dapat merubah Jakarta agar lebih baik dengan cepat. Pada awal terpilihnya sudah mulai dengan berbagai gebrakan mulai dari penerbitan Kartu Sehat, Kartu Pintar, rencana bikin kampung deret  dan yang tidak kalah fenomenal dalah gaya blusukannya ke kampung-kampung kumuh dan lokasi banjir dengan dalih agar dapat mengetahui permasalahn Jakarta kususnya masyarakat kelas bawah. Ini bisa dibilang bagus dan mendapat nilai Plus.
Selanjutnya bebagai masalah tranportasi  untuk solusi kemacetan seperti MRT, Momorail, Bus Trans Jakarta, proyek Toll dalam kota mulai dievaluasi. Ini bisa dibilang bagus dan patut mendapat applause.
Tetapi hasil evaluasi yang dilakukan sampai sekarang belum mendapatkan kejelasan, padahal harus berlomba dengan masalah yang semakin menumpuk. Belum satupun masalah transportasi  yang dievaluasi  diberikan solusi nyata yang siap direalisaikan, bahkan cenderung membuat blunder dan terlalu mudah berwacana ke public. Perubahan kecil pun belum mampak, dan sering meremehkan masalah . "gampang masterplan sudah ada semua tinggal dieksekusi" tinggal buka kran menjadi pepesan kosong, walaupun terlalu dini untuk menilai. Awal yg buruk…?????
- Kampung deret
- Revitalisasi Kopaja & Metromini
- Monorail
- MRT
ditambah lagi Deepth Tunel (Trowongan Multiguna) yang belum jelas feasibilitynya tetapi sudah ditetapkan positif pembangunannya.

Karena ke-egoan-nya yang tidak mau menjalin hubungan yang lebih erat ke kalangan elite birokrat dan pengusaha maka konsekwensinya Jokowi tidak akan mudah membuat bargaining (kekuatan untuk menawar) dan akan menjadi hambatan untuk meluluskan program-program yang berkaitan dengan finansial besar yang membutuhkan investor.
Mestinya Jokowi bertindak seimbang antara blok bawah dan atas, yaitu tetap memperhatikan dan mensupport kalangan bawah agar bisa lebih baik dan sejahtera tetapi jangan lupa untuk semakin mempererat hubungan golongan berduit agar mereka mau ikut mensupport kalangan bawah agar lebih sejahtera dengan cara mereka. Jokowi hendaknya jangan takut dibilang "Elitis" hanya gara-gara dekat dengan birokrat dan golongan berduit, karena dengan eratnya hubungan mereka, maka program-program lainnya yang pro-rakyat akan mudah terealisasa dengan adanya dukungan mereka.
"Urusi akarnya tapi jangan lupa urusi bunganya."

Bagaimana Surabaya dengan Bu Tri Rismaharini?.
Terus terang saja sebetulnya saya tidak tahu banyak tentang Bu Tri Rismaharini, tetapi saya mencoba mencari tahu ketika saya setelah sekian lama tidak menejejakkan kaki di Surabaya begitu kagum dengan perkembangan Kota Surabaya dengan penataan kota-ya yang begitu bagus dan hasil yang seperti ini tentulah bukan dari hasil pekerjaaan yang asal-asalan tetapi hasil dari kerja keras dan perencanaan yang sistematis. Kita lihat yang kasat mata mulai dairi terminalnya, bandara, jalan-jalan yang ada, sungai, pedagang kaki lima dan lain-lainya serta proyek-proyek yang sedang berjalan dan manfaat yang bisa dirasakan.
Ketika saya bertanya ternyata tidak semua orang di Surabaya tahu siapa di balik kemajuan Kota Surabaya seperti sekarang ini.

Ya.... itulah mungkin bedanya antara Jakarta dan Surabaya, dengan berbagai woro-woro, gempitanya, hebohnya tetapi tidak ada perkembangan yang signifikan. Yang menonjol dari kegiatan pembangunan Jakerdah adalah pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang dilakukan oleh non pemerintahan, sedangkan Surabaya tanpa terdengar gempitanya hasilnya terlihat dengan pasti dan nyata.
Tentunya apa yang dihasilkan bukan karena proses yang terjadi biarkan terjadi tetapi ada di balik itu sosok-sosok yang berperan di dalamnya, terkenal ataupun tidak terkenal beliau-nya sangat menentukan perannya.

Rabu, 26 Desember 2012

CARA MENGATASI BANJIR DI JAKARTA


Jakarta banjir……, ah sudah biasa.
Solusi yang tepat ?, pompa air, banjir kanal barat/timur, situ/buzem/waduk,  normalisasi bantaran sungai, sumur resapan,  Green Belt/Hutan Kota/RTH, gorong-gorong bersih bebas sampah, Deep Tunnel, Giant Sea Wall…… dlll……ah……semua belum bisa?. Terus bagaimana caranya?.

Sebelum  tahu caranya tentu ada analisa apa dan mengapa Jakarta selalu banjir?.
Sebelum menjawab pertayaan di atas, mengapa Jakarta selalu banjir, mari kita lihat beberapa sifat air yang berhubungan dengan banjir :
1. Air secara alami akan selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah,
2. Kecepatan air mengalir pada saluran terbuka ke tempat yang lebih rendah berbanding lurus dengan derajat elevasi per segmen / kontur per kontur.
3. Kecepatan air mengalir pada saluran tertutup ke tempat yang lebih rendah berbanding lurus dengan derajat elevasi  titik awal dan titik akhir saluran.
3. Debit air berbanding lurus luas penampang saluran dan kecepatannya, maka dengan penampang saluran yang sama maka volume air yang dialirkan maksimal bisa berbeda-beda  tergantung kecepatan alirannya, semakin cepat airannya semakin besar pula volume yang dihasilkan/air yang bisa dipindahkan.

Nah, sekarang kita bahas mengapa Jakarta selalu banjir?.
Lungsung saja:, secara geografis kota Jakarta di lintasi aliran air/sungai-sungai yang berhulu  dari daerah-daerah yang lebih tinggi yaitu daerah Bogor dan sekitarnya. Air sungai dari hulu melewati Jakarta sebelum akirnya sampai ke Laut. Dalam beberapa hal air sungai tersebut mengalir dengan lancar, tetapi terkadang air tersebut mengalir tersendat/kurang lancar.
 beberapa faktor air sungai mengalir tidak lancar yaitu :
1. Faktor alam
- kontur alam yang datar
- belokan-belokan
- lebar sungai yang kadang menyempit dan kadang melebar
- sampah organik.
2. Faktor manusia :
- sampah organik maupun industri yang di buang sembarangan
- penyempitan daerah aliran sungai untuk pemanfaatan yang tidak semestinya seperti pemukiman dll.

Jadi kesimpulannya penyebab utama banjir di Jakarta adalah :
1. Volume air yang terlau besar karena curah hujan tinggi., dan ini dampaknya akan terasa dari hulu sampai hilir akan terkena semua, dan ini merupakan bencana alam di luar kemampuan manusia.
2. Air yang mengalir tersendat (kecepatannya melambat) karena  faktor alam dan manusia, dan ini bisa diatasi dengan rekayasa teknologi dan konstruksi, serta perencanaan tata ruang yang baik.

Berikut adalah cara-cara/solusi bagaimanan mengatasi/menegendalikan banjir di Jakarta :
1. Dengan membuat tata ruang yang baik, lebar sungai disesuaikan dengan kontur, semakin datar kontur permukaan tanah maka semakin lebar sungai yang harus dibuat atau semakin ke hilir, sungai semakin diperlebar serta di kurangi belokan-belokannya. selain itu aliran sungai harus dibersihkan dari berbagi hambatan, sampah dan bangunan.
berikut graphic ilustrasi  agar air sungai bisa mengalir dengan lancar dan tidak terjadi banjir.



2. Dengan membangun Smart Drainase
Kota sebesar Jakarta harusnya sudah menggunakan smart drainase yang sebagian besar alirannya dikenadalikan di dalam saluran tertutup seperti tunnel atau perpipaan yang dikontrol dengan system pemompaan.
perpindahan air yang dihasilkan dari saluran tertutup sangat efektif dibandingkan saluran terbuka yang dipengaruhi oleh gravitasi dan elevasi saluran.
debit air di saluran tertutup = luas penampang x kecepatan, jadi walaupun salurannya tidak seberapa besar tetapi kalau kecepatan alirnya kita maksimalkan maka hasilnya juga bisa besar.
beda dengan saluran terbuka, walaupun di ujung saluran kita pasang pompa dengan kapasitas besar, karena di saluran terbuka banyak friksi dan pengaruh gravitasi maka bisa jadi yang terjadi adalah rush, yaitu pompa kekurang suplai di ujung karena lambatnya aliran di saluran. akibatnya walupun di hilir sudah surut tetapi di hulu/area banjir air masih tetap menggenang untuk beberapa waktu.

3. Cara lain
Selama permukaan tanah masih lebih tinggi dari air laut walaupun hanya beberapa centimeter saja masih ada solusi yang mungkin bisa diterapkan yaitu “Grid Canal”
“Grid Canal” adalah system dimana air yang ada di permukaan tanah dinetralkan dengan membuat kanal-kanal  dengan kombinasi waduk-waduk kecil yang saling terhubung  seperti halnya jalan raya yang saling berhubungan dan beberapa tempat parkirnya. System ini tidak mengalirkan air tetapi menetralkan air sehingga semua air yang ada di permukaan tanah karena hujan akan menuju kanal-kanal yang ada.  Kanal-kanal tersebut dibuat sedemikian rupa walaupun ada penambahan volume air seberapapun jumlahnya  tidak akan menaikkan level permukaan air, seperti halnya permukaan air laut, walupun hujan sederas apapun tidak akan mempengaruhi tinggi permukaan air laut.

Sebagai contoh penerapan system grid bisa di lihat di daerah Demak Jawa Tengah.
 Di daerah tersebut banyak terdapat saluran air/kanal, sehingga walaupun topografi daerah tersebut cenderung flat (datar) tetapi dengan banyaknya saluran yang dibuat ternyata sangat efektif untuk meredam banjir, dan kalupun terjadi dengan cepat akan segera surut karena semua air yang ada akan didistribusikan ke semua kanal yang ada, dan hebatnya kanal-kanal ini jarang meluap melebihi batas.
"efektif meredam banjir" artinya bukan berarti totalitas dapat meredam banjir tetapi adalah cara yang terbaik secara efektif meredam dan mengendalikan banjir dibanding cara-cara lainnya.


Venecia Canal (sumber gambar : disini )











Banjir dari air laut di Venesia  (sumber : disini)
 Contoh untuk perkotaan adalah Venesia yang sudah terkenal, dan jika Venesia terjadi banjir adalah bukan karena air  hujan, tetapi karena permukaan air laut yang naik sehingga mempunyai level yang lebih tinggi dari daratan dan ini hanya bisa diatasi dengan perpaduan system Giant Sea Wall.

Kelemahan system ini adalah air yang cenderung tidak mengalir sehingga rawan terhadap sampah dan sedimentasi
Bagaimana Jakarta siapkah membangun kanal dan dijuluki kota dengan kota 1000 kanal?

 Video Jakarta Giant Sea Wall & Waterfront City

Oleh:
 Achmad Budiono

Sabtu, 01 Desember 2012

IDE GILA PROYEK MERCUSUAR YANG YANG DI KECAM TAPI MENUAI KEBERHASILAN

Burj Khalifa Dubai
Pernahkah anda mendengar nama-nama seperti Petronas Twin Tower, Menara Kuala Lumpur, Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Putra Jaya Goverment City di Malaysia,  Burj Al Kalifa di Dubai, Skydome Toronto, Marina Bay Sand Hotel di Singapura, Gelora Bung Karno di Indonesia dll..

Proyek-proyek yang saya sebutkan tadi adalah termasuk mega proyek yang sifatnya "Mercusuar" dengan biaya yang sangat besar. Proyek-proyek mercusuar biasanya megejar suatu prestise sehingga biasanya mengesampingkan Return Investment (pengembalian modal) dari proyek tersebut.
Lalu siapakah yang mengeluarkan ide-ide gila tersebut, apakah mereka ngawur saja jika tanpa mempertimbangkan Return Investment-nya?.
Tanpa perlu tahu siapa penggagas ide-ide gila tersebut mari kita telaah apakah mereka benar-benar gila (ngawur) ataukah mereka orang-orang yang jenius yang mempunyai visi sangat jauh?.
Kita ambil salah satu contoh saja dari beberapa pencetus ide gila tersebut yaitu Mahathir Muhamad, yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia.

Kuala Lumpur International Airport (KLIA)
Pada awalnya Perdana Menteri Malaysia ini ketika mengagas proyek-proyek dengan skala besar seperti Kuala Lumpur International Airport (KLIA) yang super besar dan mewah banyak mendapatkan tantangan. Banyak kalangan yang menilai proyek ini terlalu menghambur-hamburkan uang, bahkan kalau dikalkulasi tidak sepadan dengan Return Invesment-nya. Satu belum selesai sudah memunculkan lagi ide gila lainnya yaitu membangung sesuatu yang bersifat "ter" yaitu menara tertinggi Menara Kuala Lumpur kemudian gedung kembar tertinggi dan terindah yaitu Petronas Twin Tower, ditambah lagi memindahkan pusat pemerintahan dari Kuala Lumpur ke bekas area tambang timah yang diberi nama Putra Jaya yang diisi dengan bangunan-bangunan dengan arsitektur yang indah serta didukung oleh sarana-sarana yang bisa digunakan untuk event-eventinternasional seperti Sirkuit International Sepang, kemudian area sepanjang yang menghubungkan Kuala Lumpur dengan Putra Jaya dijadikan daerah industri padat teknologi yang terkenal dengan Cyberjaya (Lembah silikon-nya Malaysia)

Observation Deck Menara KL
Bagaimana hasilnya, apakah proyek-proyek tersebut bisa Return Investment?
Menara KL
Coba bayangkan siapa yang mau menyewa/berkantor di Petronas Tower di atas lantai 60-an, lalu dengan ticket sekitar 25 RM (70 ribu rupiah) untuk naik ke Menara Kuala Lumpur apakah sesuai untuk biaya perawatan dan pengembalian modal, kemudian dengan Airport yang mewah dan besar serta Full AC apakan biaya operasionalnya bisa ditutupi dengan restribusi yang didapatkan?.
Itulah Jeniusnya Mahathir
Mungkin kalau dihitung seperti itu maka semua proyek tersebut adalah proyek yang rugi dan bahkan membikin kebangkrutan.
Sekarang kita lihat apa manfaatnya proyek-proyek tersebut ketika semuanya sudah selesai?.
Kantor Perdana Menteri "Putra Jaya"
Putra Jaya Water City
"Kuala Lumpur-Petonas Twin Tower, F1 Sepang, KLIA yang nyaman, Mono Rail, Tanah Genting Kasino Resort dll". Kuala Lumpur menjelma menjadi magnet dengan "multiplier effect" yang sangat kuat untuk berbagai kepentingan Bisnis, Pariwisata, Perdangagan dan berbagai sektor lainnya yang begitu mudah mengasilkan uang. Bahkan perkerja-pekerja kita-pun termasuk TKI berbondong-bondong menuju kesana karena iklim mendapatkan pekerjaan dan uang sangatlah menjanjikan. Bahkan di luar expektasi uang yang dihasilkan dari magnitify-nya Kuala Lumpur  lebih dari cukup untuk mengembalikan modal dari proyek-proyek yang secara langsung tersebut Return Investmennya tidak didapatkan.

Proyek-proyek mercusuar kuno yang mewariskan kebangaan dan implikasi ekonomi generasi saat ini walaupun dalam pembangunannya banyak membutuhkan pengorbanan : Piramida di Mesir, Tembok Besar Cina,  Angkor wat di Kamboja, Candi Borobudur dan Prambabanan di Indonesia dll,

Proyek-proyek mercusuar modern yang membuat negara tidak tambah miskin justru tambah kaya karena proyek-proyek tersebut menjadikan magnet tersendiri untuk mendatangkan uang baik secara langsung maupun tidak langsung.

Nah, sekarang jika kita ingin membangun Jembatan Selat Sunda JSS, Jembatan Selat Malaka, Jakarta MRT, Jakarta Super Tall Signature Tower masih berpikir Return Investment secara langsung, maka samapai kiamat-pun tidak akan ada hasilnya.

Perpikirlah apa yang anda tempa tidak hanya menjadi batangan besi tetapi akan menjadi magnet yang akan dapat menarik lainnya.
Seperti Burj Khalifa di Dubai, walaupun investasinya sulit kembali modal karena load huniannya yang rendah tetapi dengan adanya daya tarik gedung tersebut  yang menjadi simbol bagi Dubai, maka sekarang Dubai yang tadinya tidak lebih besar dari kota sekelas Semarang telah menjelma menjadi kota Internasional yang menjadi salah satu pusat finansial dunia. dan barometernya bangunan-bangunan bergaya modern di dunia.

Seperti pepatah " jika anda memelihara burung agar menjadi  mahal janganlah anda mengharap telurnya tapi berharaplah pada kicauan dan keolakannya"

Oleh Achmad Budiono

Rabu, 07 November 2012

Rusun Kali

Jika gubernur Jakarta yang sekarang sulit merealisasikan kampung deret untuk merevitalisasi kawasan kumuh di bantaran sungai yang dijanjikannya karena permasalahan pengadaan lahan, mungkin cara berikut ini bisa menjadi solusinya.
yaitu "Rusun Kali" (rumah susun di atas kali), tetapi harus dibarengi dengan regulasinya agar nantinya tidak sembarangan membangun bangunan di atas sungai. Dan jika memungkinkan tidak hanya di atas kali, bahkan mungkin di atas jalan dengan kompensasi lahan yang semestinya dipakai bangunan dijdikan RTH (Ruang Terbuka Hijau)
Ilustrasi gambar Rusun Kali

Senin, 22 Oktober 2012

MEMILIH MODEL JARINGAN TRANSPORTASI JAKARTA

"JAKARTA"  sebagai kota metropolitan yang terus berkembang secara pesat menuju kota megapolitan sampai saat ini belum mempunyai jaringan transportasi yang memadai terutama untuk mobilitas warganya.
Sampai saat ini Jakarta bisa dikatakan hanya mengandalkan jaringan transportasi berbasis jalan raya. Memang dengan jalan raya semua tempat bisa di jangkau dengan kendaraan bermotor, tetapi kapasitas yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada menimbulkan masalah yang sulit untuk dipecahkan.
Melihat topografi Jakarta yang sedemikian rupa maka jaringan jalan cenderung akan berbentuk grid. Jaringan jalan berbentuk grid ini mempunyai kelebihan semua tempat dapat diakses dari manapun tempat, akan tetapi mempunyai kekurangan mengenai kecepatan akses karena mempunyai friksi/hambatan yang sangat besar pada simpul-simpul persilangan, bahkan apabila pada jam-jam sibuk dan kapasitas jalan sudah penuh makan akan mudah terjadi kemacetan total "grid lock" yang sulit untuk terurai.
Untuk itu pertumbuhan jaringan jalan yang berbentuk "grid" yang secara alami ini harus diberikan jalan keluarnya yaitu dengan membangun jalan-jalan yang bepola "webing" atau anyaman dan membuat jaringan primer yang berpola radial (Ring Road) yang dipadu dengan jaringan utama timur barat dan utara selatan dengan pola duri ikan (THORNS FISH ACCESS).
Dengan jaringan jalan berpola webing ini maka friksi/hambatan di setiap persimpangan bisa diminimalkan



BERIKUT BEBERAPA POLA PERSIMPANGAN YANG TERMASUK DALAM POLA WEBING/ANYAMAN

Roundabout (Bundaran) adalah salahsatu pola untuk mengakomodasi untuk 3 persimpangan atau lebih. Cara ini efektif untuk akses-akses jalan di dalam perkotaan dengan kecepatan relatif rendah/sedang.

Polas Semanggi, sesuai untuk akases dari kecepatan tinggi ke kecepatan sedang dengan friksi/hambatan yang relatif kecil. Disitu masih ada sedikit weaving (pertukaran jalur) antara yang keluar dan yang masuk.
Pola "FLT" Free Turn Left (belok kiri jalan terus)

Pola "close cross" atas bawah, tidak ada friksi tetapi tidak ada akses antara kedua jalan yang bersilangan.  Pola ini tetap diperlukan apabila kedua jalan tersebut sudah mempunyai akses di lain tempat yang lebih baik.
FREE WAY JUNCTION
Pola seperti ini bisa dikatakan pola terbaik untuk 3 persimpangan karena hampir bebas dari friksi/hambatan

"U"TURN
Selain pola persimpangan yang baik yang tidak kalah pentingnya adalah akses untuk berputar arah atau "U" Turn. Dengan "U" Turn yang baik maka friksi dapat diminimalkan.

Elevated Highway (adalah salah satu cara untuk mengurangi friksi),
tetapi Elevated Highway ini banyak ditentang karena akan mengurangi keindahan kota, bahkan apabila kolong jalan bertingkat ini tidak mendapatkan perhatian kusus akan menjadi tempat bagi tuna wisma.


Walaupun jaringan jalan raya dibangun terus tertapi apabila rasio jalan raya dan kendaraan tetap tidak bisa diatas 1:25 (artinya 1 kendaraan bermotor idealnya memiliki luasan jalan minimum 25 kali luas kendaraan) maka kenyamanan berkendara tidak pernah akan terpenuhi, dan Jakarta tidak akan samggup memenuhi rasio tersebut.
Lalu bagai mana solusinya ?
"Mau tidak mau solusinya adalah merapkan angkutan umum masal secara terpadu (Integrated Mass Rapid Transit Network), lihat/baca beberapa model MRT di sisni
" IMRTN ini  apapun moda yang digunakan yang paling sesuai adalah yang berbasis rel.
Dengan jaringan berbasis "Rel" maka friksi atau benturan-benturan  dan gesekan pada waktu perjalanan dapat diminimalkan  dan juga tidak ada bentuk-bentuk penggunaan yang bersifat privat sehingga akan mudah untuk pengelolaanya, mulai shedulling, timing (ketepatan yang terjaga), dan capacity adjustment (kapasitas yang dapat disesuikan dengan kebutuhan).
Berikut beberapa  model route jaringan MRT di Jakarta yang masing-masing model memiliki kekurangan dan kelebihan:




Jika ada yang berasumsi MRT itu harus murah itu kurang tepat. MRT itu memang mahal tetapi sesuai dengan apa yang harapkan yaitu mengakomodasi pengguna kendaraan pribadi yang rata-rata berpenghasilan cukup agar beralih ke moda tersebut. Jika MRT dibikin murah mungkin pelayanannya tidak akan maksimal lagi yang tak ubahnya kereta ekonomi. Jadi semua ada porsinya masing-masing:
MRT-boleh mahal tetapi servisnya harus mempunyai standard yang tinggi. Porsinya untuk mengakomodasi pengguna kendaraan pribadi.
LRT, Busway dan Commuter Rail Service-untuk kalangan menengah dengan tarif medium, porsinya untuk pekerja kantoran, karyawan dan mahasiswa
Angkot dan Bus Regular- untuk kalangan ekonomi bawah, buruh pabrik, pekerja informal dan pedagang kecil

Sekian, semoga bermanfaat.